Ternyata ada yang beranggapan bahwa
bisnis aren tidak menarik, karena waktunya yang lama sampai dengan
menghasilkan. Namun dengan pendekatan yang tepat komoditas ini ternyata
benar-benar bersifat cash money.
Dalam 1 ha perkebunan aren membutuhkan
420 batang dengan jarak tanam 4 x 6 m. Dengan asumsi kita memiliki 3 ha
maka kita akan memiliki tanaman 1000 batang (untuk memudahkan
perhitungan). Jika Anda menggunakan varietas Simulen maka perlu waktu 7
tahun dengan umur produktif selama 20 tahun, sementara varietas aren
genjah perlu waktu 5 tahun untuk bisa dideres, dengan masa produktif
hingga 18 tahun.
Sebelum aren panen maka pekebun bisa
menanam beberapa tanaman seperti pisang, pepaya, rumput gajah atau juga
kopi namun dengan konsekuensi populasi aren akan berkurang. Sekitar 100
batang per ha.
Misalnya kita menaman pisang ambon
dengan populasi 300 batang/ha yang dalam 10 – 11 bulan sudah
menghasilkan. Biasanya 1 kg pisang dihargai sampai dengan Rp. 2.500/kg.
Sementara per tandan bisa mencapai 30 kg maka diperoleh pendapatan
75.000 ribu/batang. Maka untuk 3 ha dengan populasi 900 batang maka
diperoleh pendapatan Rp. 67.500.000,-. Ini bisa menjadi alternative
sebelum aren menghasilkan.
Lalu saat aren menghasilkan maka per
pokok bisa mendapatkan hasil nira aren rata-rata 15 – 16 liter per
pokok. Atau setara dengan 2 kg gula aren. Walaupun populasi sebanyak 420
per ha atau setara 1000 ha namun yang panen biasanya 50 % dan
bergantian. Maka total produksi 1000 kg dengan harga Rp. 15 ribu
diperoleh pendapatan Rp. 15 juta per hari, per bulan Rp. 450 juta,
dengan pendapatan per tahun Rp. 5,4 M. Pendapatan akan lebih besar jika
memiliki akses pasar. Di tingkat pembeli akhir harga gula merah bisa
mencapai Rp. 20.000,- 24.000/kg. Sementara gula semut bisa mencapai Rp.
40.000,-/kg.
Jadi berdasarkan perhitungan tersebut terbukti aren sebagai tanaman penghasilan cash.